Selasa, 06 Juli 2010

perbandingan pembelajaran konvensional dan hypnotheaching

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pendidikan sekarang ini sangatlah membutuhkan perhatian khusus agar tetap dapt berjalan sesuai dengan tujuan yang diingikan bersama. Metode pembelajaran yang digunakan merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi pendidikan. Seorang guru dituntut untuk menguasai berbagai model-model pembelajaran, di mana melalui model pembelajaran yang digunakannya akan dapat memberikan nilai tambah bagi anak didiknya. Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya dari proses pembelajarannya adalah hasil belajar yang optimal atau maksimal. Dengan demikian dapat dihasilkan output yang berkualitas.
Selama ini banyak guru yang menggunakan metode pembelajaran konvensional dalam proses mengajar. Secara umum yang dimaksud dengan metode pembelajaran konvensional yaitu pembelajaran dengan cara ceramah dimana peran guru di sini aktif dan peserta didik cenderung pasif. Ada sebuah pendapat yang menyatakan bahwa metode tersebut sudah tidak layak digunakan, hingga kini muncul metode pembelajaran baru. Metode yang dimaksud yaitu metode pembelajaran hypnoteaching. Metode pembelajaran yang penyampaian materinya menggunakan bahasa-bahasa bawah sadar. Metode yang mampu memunculkan ketertarikan tersendiri pada setiap peserta didik. Untuk itu kita harus mampu membandingkan kedua metode tersebut. Dengan begitu kita dapat menentukan metode mana yang tepat digunakan dalam proses pembelajaran sekarang ini.







B. Rumusan masalah
Pada tulisan ini akan dibahas mengenai Perbandingan metode pembelajaran konvensional dan pembelajaran hypnoteaching. Hal-hal yang akan dibahas antara lain :
1. Apa yang disebut dengan metode pembelajaran konvensional dan pembelajaran hypnoteaching?
2. Bagaimana perbandingan antara metode pembelajaran konvensional dengan pembelajaran hypnoteaching dan kelebihan dan kelemahan nya masing-masing?
3. Bagaimana Pelaksanaan metode pembelajaran konvensional dan pembelajaran hypnoteaching.
C.Tujuan Penulisan
Dengan penulisan makalah ini ,penulis mempunyai maksud memaparkan Apa itu metode pembelajaran konvensional dan pembelajaran hypnoteaching beserta kelebihan dan kelemahan nya masing-masing










BAB II
PEMBAHASAN

a.Pengertian Pembelajaran Konvensional

Pembelajaran konvensional adalah salah satu model pembelajaran yang hanya memusatkan pada metode pembelajaran ceramah. Pada model pembelajaran ini, siswa diharuskan untuk menghafal materi yang diberikan oleh guru dan tidak untuk menghubungkan materi tersebut dengan keadaan sekarang (kontekstual).
Freire (1999) memberikan istilah terhadap pengajaran seperti itu sebagai suatu penyelenggaraan pendidikan ber-“gaya bank” (banking concept of education). Penyelenggaraan pendidikan hanya dipandang sebagai suatu aktivitas pemberian informasi yang harus “ditelan” oleh siswa, yang wajib diingat dan dihafal. Proses ini lebih jauh akan berimplikasi pada terjadinya hubungan yang bersifat antagonisme di antara guru dan siswa. Guru sebagai subjek yang aktif dan siswa sebagai objek yang pasif dan diperlakukan tidak menjadi bagian dari realita dunia yang diajarkan kepada mereka.
Burrowes (2003) menyampaikan bahwa pembelajaran konvensional menekankan pada resitasi konten, tanpa memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk merefleksi materi-materi yang dipresentasikan, menghubungkannya dengan pengetahuan sebelumnya, atau mengaplikasikannya kepada situasi kehidupan nyata.
pembelajaran konvensional memiliki ciri-ciri, yaitu:
(1) pembelajaran berpusat pada guru,
(2) terjadi passive learning,
(3) interaksi di antara siswa kurang,
(4) tidak ada kelompok-kelompok kooperatif, dan
(5) penilaian bersifat sporadis.
Menurut Brooks & Brooks (1993), penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih menekankan kepada tujuan pembelajaran berupa penambahan pengetahuan, sehingga belajar dilihat sebagai proses “meniru” dan siswa dituntut untuk dapat mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari melalui kuis atau tes terstandar.
Langkah-langkah Model Pembelajaran Konvensional
NO-FASE-PERAN GURU
1-Menyampaikan tujuan-Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut
2-Menyajikan informasi-Guru menyajikan informasi kepada siswa secara tahap demi tahap dengan metode ceramah
3-Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik-Guru mengecek keberhasilan siswa dan memberikan umpan balik
4-Memberikan kesempatan latihan lanjutan-Guru memberikan tugas tambahan untuk dikerjakan di rumah.

b.Pelaksanaan Model Pembelajaran Konvesional di Indonesia
Seorang guru dituntut untuk menguasa berbagai model-model pembelajaran, di mana melalui model pembelajaran yang digunakannya akan dapat memberikan nilai tambah bagi anak didiknya. Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya dari proses pembelajarannya adalah hasil belajar yang optimal atau maksimal.
Namun, salah satu model pembelajaran yang masih berlaku dan sangat banyak digunakan oleh guru adalah model pembelajaran konvensional. Model ini sebenarnya sudah tidak layak lagi kita gunakan sepenuhnya dalam suatu proses pengajaran, dan perlu diubah. Tapi untuk mengubah model pembelajaran ini sangat susah bagi guru, karena guru harus memiliki kemampuan dan keterampilan menggunakan model pembelajaran lainnya.
Memang, model pembelajaran kovensional ini tidak serta merta kita tinggal, dan guru mesti melakukan model konvensional pada setiap pertemuan, setidak-tidak pada awal proses pembelajaran di lakukan. Atau awal pertama kita memberikan kepada anak didik sebelum kita menggunakan model pembelajaran yang akan kita gunakan. Menurut Djamarah (1996) metode pembelajaran konvensional adalah metode pembelajaran tradisional atau disebut juga dengan metode ceramah, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar dan pembelajaran. Dalam pembelajaran sejarah metode konvensional ditandai dengan ceramah yang diiringi dengan penjelasan, serta pembagian tugas dan latihan.
Selanjutnya menurut Roestiyah N.K. (1998) cara mengajar yang paling tradisional dan telah lama dijalankan dalam sejarah Pendidikan ialah cara mengajar dengan ceramah. Sejak duhulu guru dalam usaha menularkan pengetahuannya pada siswa, ialah secara lisan atau ceramah. Pembelajaran konvensional yang dimaksud adalah pembelajaran yang biasa dilakukan oleh para guru. Bahwa, pembelajaran konvensional (tradisional) pada umumnya memiliki kekhasan tertentu, misalnya lebih mengutamakan hapalan daripada pengertian, menekankan kepada keterampilan berhitung, mengutamakan hasil daripada proses, dan pengajaran berpusat pada guru.
Metode mengajar yang lebih banyak digunakan guru dalam pembelajaran konvensional adalah metode ekspositori. Menurut Ruseffendi (1991) metode ekspositori ini sama dengan cara mengajar yang biasa (tradisional) kita pakai- pada pengajaran matematika”. Kegiatan selanjutnya guru memberikan contoh soal dan penyelesaiannya, kemudian memberi soal-soal latihan, dan siswa disuruh mengerjakannya.
Jadi kegiatan guru yang utama adalah menerangkan dan siswa mendengarkan atau mencatat apa yang disampaikan guru. Subiyanto (1988) menjelaskan bahwa, kelas dengan pembelajaran secara biasa mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : pembelajaran secara klasikal, para siswa tidak mengetahui apa tujuan mereka belajar pada hari itu.
Guru biasanya mengajar dengan berpedoman pada buku teks atau LKS, dengan mengutamakan metode ceramah dan kadang-kadang tanya jawab. Tes atau evaluasi yang bersifat sumatif dengan maksud untuk mengetahui perkembangan jarang dilakukan. Siswa harus mengikuti cara belajar yang dipilih oleh guru, dengan patuh mempelajari urutan yang ditetapkan guru, dan kurang sekali mendapat kesempatan untuk menyatakan pendapat.
Banyak kita temukan di lapangan bahwa selama ini pembelajaran matematika didominasi oleh guru melalui metode ceramah dan ekspositorinya.
Disamping itu, menurutnya guru jarang mengajar siswa untuk menganalisa secara mendalam tentang suatu konsep dan jarang mendorong siswa untuk menggunakan penalaran logis yang lebih tinggi seperti kemampuan membuktikan atau memperlihatkan suatu konsep. Hal senada ditemukan oleh Marpaung (2001) bahwa dalam pembelajaran matematika selama ini siswa hampir tidak pernah dituntut untuk mencoba strategi dan cara (alternatif) sendiri dalam memecahkan masalah.
Dari uraian di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan pembelajaran matematika secara biasa adalah suatu kegiatan belajar mengajar yang selama ini kebanyakan dilakukan oleh guru dimana guru mengajar secara klasikal yang di dalamnya aktivitas guru mendominasi kelas dengan metode ekspositori, dan siswa hanya menerima saja apa-apa yang disampaikan oleh guru, begitupun aktivitas siswa untuk menyampaikan pendapat sangat kurang, sehingga siswa menjadi pasif dalam belajar, dan belajar siswa kurang bermakna karena lebih banyak hapalan.
Jika dilihat dari tiga jalur modus penyampaian pesan pembelajaran, penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih sering menggunakan modus telling (pemberian informasi), ketimbang modus demonstrating (memperagakan) dan doing direct performance (memberikan kesempatan untuk menampilkan unjuk kerja secara langsung). Dalam perkataan lain, guru lebih sering menggunakan strategi atau metode ceramah dan/atau drill dengan mengikuti urutan materi dalam kurikulum secara ketat. Guru berasumsi bahwa keberhasilan program pembelajaran dilihat dari ketuntasannya menyampaikan seluruh materi yag ada dalam kurikulum. Penekanan aktivitas belajar lebih banyak pada buku teks dan kemampuan mengungkapkan kembali isi buku teks tersebut. Jadi, pembelajaran konvensional kurang menekankan pada pemberian keterampilan proses (hands-on activities).
Berdasarkan definisi atau ciri-ciri tersebut, penyelenggaraan pembelajaran konvensional merupakan sebuah praktik yang mekanistik dan diredusir menjadi pemberian informasi. Dalam kondisi ini, guru memainkan peran yang sangat penting karena mengajar dianggap memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar (pebelajar). Dengan kata lain, penyelenggaraan pembelajaran dianggap sebagai model transmisi pengetahuan (Tishman, et al., 1993). Dalam model ini, peran guru adalah menyiapkan dan mentransmisi pengetahuan atau informasi kepada siswa. Sedangkan peran para siswa adalah menerima, menyimpan, dan melakukan aktivitas-aktivitas lain yang sesuai dengan informasi yang diberikan.






c. Kelemahan dan kelebihan Pembelajaran Konvensional

Pengajaran model ini dipandang efektif atau mempunyai keunggulan, terutama:
a. Berbagi informasi yang tidak mudah ditemukan di tempat lain.
b. Menyampaikan informasi dengan cepat.
c. Membangkitkan minat akan informasi.
d. Mengajari siswa yang cara belajar terbaiknya dengan mendengarkan.
e. Mudah digunakan dalam proses belajar mengajar.
Namun demikian pendekatan pembelajaran tersebut mempunyai beberapa kelemahan sebagai berikut:
a. Tidak semua siswa memiliki cara belajar terbaik dengan mendengarkan.
b. Sering terjadi kesulitan untuk menjaga agar siswa tetap tertarik dengan apa yang dipelajari.
c. Pendekatan tersebut cenderung tidak memerlukan pemikiran yang kritis.
d. Pendekatan tersebut mengasumsikan bahwa cara belajar siswa itu sama dan tidak bersifat pribadi.
e. Kurang menekankan pada pemberian keterampilan proses (hands-on activities).
f. Pemantauan melalui onservasi dan intervensi sering tidak dilakukan oleh guru pada saat belajar kelompok sedang berlangsung.
g. Para siswa tidak mengetahui apa tujuan mereka belajar pada hari itu.
h. Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas.
i. Daya serapnya rendah dan cepat hilang karena bersifat menghafal.








II. a Metode Pembelajaran Hypnoteaching
Metode Pembelajaran hypnoteaching Yaitu menyajikan materi pelajaran dengan menggunakan bahasa-bahasa bawah sadar. Sehingga perhatian siswa akan tersedot secara penuh pada materi. Siswa akan memperhatikan dan enggan untuk berpaling.
b. Langkah-langkah melakukan pembelajaran hypnoteaching
Untuk melakukan hypnoteaching, hanya diperlukan langkah-langkah sederhana.
Berikut ini adalah langkah-langkah dasar yang wajib dilakukan agar dapat menguasai jurus menjadi guru yang menguasai hypnoteaching. Langkah-langkah tersebut adalah :

1. Niat dan motivasi dalam diri.
Kesuksesan seseorang tergantung pada niat seseorang untuk bersusah payah dan bekerja cerdas untuk mencapai kesuksesan tersebut. Niat yang besar akan memunculkan motivasi yang tinggi, serta komitmen untuk concern dan survive pada bidang yang di tekuni. Mari, lakukan sesuatu yang kita yakin akan dapat mengembangkan kualitas diri kita. Termasuk hypnoteaching. Abaikan suara-suara dan perasaan-perasaan yang menghambat untuk maju.

2. Pacing.
Langkah kedua ini adalah langkah yang sangat penting. Pacing berarti menyamakan posisi, gerak tubuh, bahasa, serta gelombang otak dengan orang lain, atau siswa.
Prinsip dasar disini adalah “manusia cenderung, atau lebih suka berkumpul / berinteraksi dengan sejenisnya / memiliki banyak kesamaan”. Secara alami dan naluriah, setiap orang pasti akan merasa nyaman dan senang untuk berkumpul dengan orang lain yang memiliki kesamaan dengannya.Sehingga orang-orang dalam golongan itu akan merasa nyaman berada di dalamnya. Dengan kenyamanan yang bersumber dari kesamaan gelombang otak ini, maka setiap pesan yang disampaikan dari orang satu pada orang-orang yang lain akan dapat diterima dan dipahami dengan sangat baik.
Cara-cara melakukan pacing pada siswa:
Bayangkan kita adalah seusia siswa-siswa kita. Disamping juga melakukan aktivitas dan merasakan hal-hal yang dialami siswa-siswa kita pada masa sekarang. Bukan pada saat kita masih sekolah dulu.Gunakan bahasa yang sesuai dengan bahasa yang sering digunakan oleh siswa-siswa kita. Kalau perlu gunakan bahasa gaul yang sedang trend di kalangan siswa-siswa.Lakukan gerakan-gerakan dan mimik wajah yang sesuai dengan tema bahasan kita.
Sangkutkan tema pelajaran yang kita bawakan dengan tema-tema yang sedang trend di kalangan siswa-siswa kita.Selalu update pengetahuan kita tentang tema, bahasa hingga gossip terbaru yang sedang trend di kalangan siswa.
Dengan melakukan hal-hal tersebut, maka tanpa sadar gelombang pikiran kita telah sama dengan para siswa. Akibatnya adalah siswa-siswa kita merasa nyaman untuk bertemu dengan kita.
3. Leading.
Leading berarti memimpin atau mengarahkan setelah proses pacing kita lakukan. Setelah melakukan pacing, maka siswa akan merasa nyaman dengan kita. Pada saat itulah hampir setiap apapun yang kita ucapkan atau tugaskan pada siswa , maka siswa akan melakukannya dengan suka rela dan bahagia. Sesulit apapun materinya, maka pikiran bawah sadar siswa akan menangkap materi pelajaran kita adalah hal yang mudah, maka sesulit apapun soal ujian yang diujikan, akan ikut menjadi mudah, dan siswa akan dapat meraih prestasi belajar yang gemilang.
4. Gunakan kata positif.
Langkah berikutnya adalah langkah pendukung dalam melakukan pacing dan leading. Penggunaan kata positif ini sesuai dengan cara kerja pikiran bawah sadar yang tidak mau menerima kata negative. Yang terjadi pada pikiran bawah sadar manusia, yaitu tidak menerima kata negative.
5. Berikan pujian.
Pujian merupakan reward peningkatan harga diri seseorang. Pujian merupakan salah satu cara untuk membentuk konsep diri seseorang. Maka berikanlah pujian dengan tulus pada siswa. Dengan pujian, seseorang akan terdorong untuk melakukan yang lebih dari sebelumnya.

6. Modeling.
Modeling adalah proses memberi tauladan melalui ucapan dan perilaku yang konsisten. Hal ini sangat perlu dan menjadi salah satu kunci hypnoteaching. Setelah siswa menjadi nyaman dengan kita. Maka perlu pula kepercayaan (trust) siswa pada kita dimantapkan dengan perilaku kita yang konsisten dengan ucapan dan ajaran kita. Sehingga kita selalu menjadi figure yang dipercaya.
c. Kelebihan dan kekurangan dari pembelajaran hypnoteaching:
Kelebihan dari pembelajaran hypnoteaching:
a. Proses belajar mengajar yang lebih dinamis dan ada interaksi yang baik antara guru dan siswa
b. Siswa dapat berkembang sesuai dengan bakat dan minatnya
c. Proses pemberian ketrampilan banyak diberikan disini
d. Proses pembelajarannya lebih beragam
e. Siswa dapat dengan mudah menguasai materi, karna termotivasi lebih untuk belajar
f. Pembelajaran bersifat aktif
g. Pemantauan terhadap peserta didik lebih intensif
h. Siswa dibiarkan berimajinasi dan berfikir kreatif
i. Siswa akan melakukan pembelajaran dengan senang hati
j. Daya serapnya lebih cepat dan lebih bertahan lama, karena siswa tidak menghafal
k. Perhatian siswa akan tersedot penuh terhadap materi
Kekurangan dari pembelajaran hypnoteaching:
1. Metode ini belum banyak digunakan oleh para pengajara di Indonesia
2. Banyaknya siswa yang ada disebuah kelas, menyebabkan kurangnya waktu dari guru untuk memberi perhatian satu per satu peserta didiknya.
3. Perlu pembelajaran agar guru bisa melakukan Hypnoteaching
4. Tidak semua pengajar menguasai metode ini.
5. Kurangnya sarana dan prasarana yang ada disekolah







BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Seorang guru dituntut untuk dapat menguasai berbagai model-model pembelajaran. Beliau harus mampu menentukan metode mana yang tepat untuk digunakannya dalam proses pembelajaran. Sehingga peserta didik dapat merasa nyaman dalam mengikuti proses belajar. Dengan demikian akan dapat menghasilkan output yang berprestasi dan berkualitas tinggi.
Salah satu metode yang sampai saat ini masih banyak digunakan olae guru dalam mengajar yaitu metode pembelajaran konvensional. Metode yang dalam penyampaian materinya dengan cara ceramah. Sehingga guru lebih bersifat aktif, sedangkan peserta didik hanya duduk dan mendengarkan penjelasan guru. Daya serap materinya pun tidak bertahan lama, karena hanya mengandalkan aspek pendengaran (audio). Metode lain yang sedang marak saat ini yaitu metode pembelajaran hypnoteaching. Metode dimana penyampaian materi menggunakan bahasa-bahasa bawah sadar.
Metode yang mampu memunculkan ketertarikan tersendiri pada setiap peserta didik. Setelah peserta didik terfokus hanya pada guru, maka dengan mudah seorang guru itu merasuki pikiran peserta didik untuk menyampaikan meteri-materi pembelajaran. Tetapi untuk dapat melakukan metode hypnoteaching seorang guru harus mengikuti langkah-langkah yang telah disarankan.
Dari penjelasan di atas dapat kita katakan bahwa hipnoterapi ternyata bisa memberikan efek positif pada diri kita. Melalui hipnoterapi, seseorang bisa mensugesti dirinya untuk lebih bersemangat menjalani hidup ini guna meraih apa yang diinginkan,










DAFTAR PUSTAKA

http://xpresiriau.com
http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASHacea/7c4d72ac.dir/doc.pdf
http://www.kompasiana.com
http://mediasugesti.blogspot.com/2008/11/hypnoteaching-2.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar